Ketika Bakat Membuatku Galau

Bulan ini dan bulan depan adalah bulan yang cukup penting buatku. Terutama untuk masa depanku dalam hal pendidikan. Sejak sebulan yang lalu, sebagai seorang pelajar kelas 3 SMA. Aku memperoleh hak untuk mengikuti SNMPTN (Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Aku mengikuti SNMPTN dengan antusias, bahkan sebelum pendaftaran SNMPTN dibuka. Karena kebetulan aku telah memiliki pilihan prodi (program studi) yang sudah setahun belakangan ini memang rencana ingin aku pilih. Aku memilih prodi tersebut karena itu merupakan cita-cita ku sejak kecil dan orangtua ku juga merestuinya.

Beberapa hari setelah pendaftaran dibuka, aku segera melengkapi segala persyaratan yang dibutuhkan. Mulai dari melengkapi nilai, sampai akhirnya mendaftar. Dari awal aku yakin-yakin saja dengan pilihan ku, walaupun saingan satu sekolahku lumayan banyak. Karena aku memang yakin dengan prodi pilihan ku itu kala itu. Tapi entah kenapa menjelang akhir penutupan pendaftaran pilihan ku tiba-tiba goyah. Bukan karena banyaknya saingan atau pun orang tua yang tiba-tiba melarang. Aku tiba-tiba goyah karena aku terenyuh oleh kalimat yang temanku sampaikan.

Hari itu sepulang sekolah, aku mengobrol banyak dengan temanku. Kebetulan kami mengobrol di depan kamarku karena kami satu kost. Kami membahas berbagai macam hal sampai akhirnnya kami membahas tentang SNMPTN. Aku lupa bagaimana detail yang temanku sampaikan, tapi kurang lebih seperti ini
“Seorang yang sukses dalam karirnya biasanya adalah orang yang mau menekuni bakatnya, karena dengan itu dia pasti akan bahagia dalam menekuni pekerjaannya. Orang yang mau menekuni bakat biasanya adalah orang yang mau keluar dari zona aman. Sedangkan orang yang tak mau keluar dari zona aman biasannya adalah orang rata-rata.”

Jujur saat mendengar ucapan itu membuat satu kalimat terlintas di pikiran ku.
“Apa bakatku sebenarnnya?”  

Setelah obrolan, malamnya aku masih memikirkan kata-kata yang terlintas dipikiranku tentang apa bakat ku sebenarnya. Aku mulai merenung dan berselancar di internet untuk mencari tau. Aku membaca beberapa tulisan di blog dan aku mulai sadar dan mengakui apa bakat ku sebenarnya. Ternyata bakat ku adalah di bidang verbal. Seketika aku langsung iseng mencari apa prodi yang cocok untuk bakat ku. Di luar dugaan, prodi yang muncul untuk bakat ku adalah prodi yang sangat jauh kaitannya dengan prodi yang telah aku pilih sekarang. Semuanya mengarah ke program studi IPS /Bahasa. Sedangkan pada kenyataannya aku adalah anak IPA dan prodi yang aku pilih sekarang adalah Pendidikan Dokter. Luar biasa bukan sangat amat jauh. Hal ini sempat membuatku galau, padahal saat itu kurang dua hari sebelum hari penutupan pendaftaran.

Aku full merenung, bayangkan kurang dua hari lagi dan pilihan yang aku pilih sekarang akan sangat menentukan masa depanku nanti. Awalnya sempat muncul dipikiranku apakah aku akan lintas jurusan saja. Tapi entah kenapa aku teringat pada orangtuaku. Mereka tau dan setuju aku mengambil kedokteran, aku ingat betapa Ayahku sangat mendorongku untuk menjadi seorang dokter. Aku tidak ingin mengecewakan orangtuaku. Lagi pula aku juga masih sedikit ragu, apakah dengan bakat verbalku aku akan benar-benar sukses ? Segala pertanyaan tentang masa depanku kembali muncul.

Aku merenung kembali. Bakat dan Minat ? Kenyataannya sedari kecil minatku adalah menjadi seorang dokter dan aku tak pernah sekali pun tertarik untuk menekuni bidang yang lain. Namun pada kenyataannya bakatku adalah dalam verbal dan aku juga memang merasakannya apalagi orang disekelilingku. Sedari kecil aku adalah anak yang tak pernah malu berbicara di depan umum, apalagi dengan orang yang tak ku kenal. Aku sangat suka membaca, buku apapapun itu, karena suka membaca otomatis aku suka menulis. Masih ku ingat saat ayah ku pertama kali membeli komputer, saat itu usiaku sekitar 10 tahun. Aku rajin sekali mengutak-atik komputer, bukan karena aku suka pada dunia komputer. Aku suka duduk di depan komputer untuk menulis. Menulis cerpen, puisi, atau pun hanya asal ketik saja. Mungkin ada puluhan tulisan tak jelasku di komputer ayahku. Sebenarnya yang pertama kali mengakui bakat menulisku adalah guru SD ku, aku lupa nama beliau, tapi aku ingat ibu ku pernah bercerita. Ibuku diberitahu oleh guru SD ku bahwa untuk ukuran anak kelas 3 SD, di kelasku aku cukup pandai dalam merangkum sebuah cerita. Guru SD ku mengatakan akan mengusahakan aku untuk ikut lomba. Aku hanya tersenyum mendengar cerita itu, tapi jujur aku punya masalah saat akan ikut lomba. Aku punya demam panggung, aku tak pernah mau sarapan jika akan berangkat lomba. Jadi ibuku kurang percaya padaku jika ikut lomba, karena usahaku saat lomba juga tak bisa semaksimal latihanku. Saat SMP bakatku ini juga kembali muncul. Saat kelas 8, karena kemampuanku dalam menulis puisi. Entah kenapa  guru bahasa Indonesiaku malah memilihku untuk ikut seleksi menulis cerpen di sekolah, tapi lagi-lagi karena masalah demam panggungku. Aku sengaja menulis dengan ‘sebisanya saja’ karen jujur aku tak ingin demam panggungku merugikan sekolah. Ya ujung-jungnya memang tak lolos seleksi. Tapi saat kelas 9, kemampuan bahasa asingku juga mulai terlihat. Aku dipilih mengikuti lomba bahsa inggris di salah satu SMA di kotaku dan Alhamdulillah masuk 10 besar. Awalnya aku tak menyangkanya, ya tapi memang di luar dugaan. Pada saat-saat itu ibuku sempat menanyakan, apa kau ingin jadi guru bahasa saja? Tapi aku menolaknya dan aku bilang aku ingin jadi dokter. Ya tentu ibuku hanya bisa mendukung saat mendengar ucapanku. Karena pada kenyataannya kemampuan di bidang akademisku juga mendukungnya saat itu.

Kembali ke masa sekarang, aku kembali teringat ibuku. Beliau sempat memberikan pertanayaan padaku beberapa bulan sebelum SNMPTN

“Ainun, Kamu tau kan ibu dari dunia pendidikan IPA (Ibuku adalah seorang Guru Biologi) dan Ayahmu dari Bahasa ( Ayahku adalah Guru Bahasa Jerman). Apa kau tak ada pilihan lain selain dokter? Barangkali kau mungkin ingin mendalami tentang bahasa?”  
Saat itu aku hanya tertawa dan menggelengkan kepala, mengatakan bahwa aku yakin akan masuk ke kedokteran saja. Jujur aku jika mengingat itu kembali, aku sedikit terenyuh dengan pertanyaan ibuku itu. Seolah ibuku juga tau apa bakatku sebenarnya. Tapi aku dan ibu juga tau, betapa Ayahku ingin melihatku menajdi seorang dokter. Aku juga ingat betapa ayahku melarangku untuk menjadikan Pendidikan sebagai pilihan kedua. Padahal saat itu aku hanya iseng bertanya. Aku tak bisa membayangkan jika tiba-tiba aku bilang aku ingin mengambil jurusan lain selain pendok apalagi sampai lintas jurusan. Aku benar-benar tak ingin mengecewakan orangtuaku terutama ayahku. Apalagi pada kenyatanya aku adalah satu-satunya anak dan cucu dalam keluarga Ayahku. Pastilah orangtuaku dan nenekku ingin melihat kesuksesanku.

Setelah merenung cukup lama sampai SNMPTN benar-benar sudah ditutup. Aku memutuskan untuk memilih minatku, aku akan tetap menjadikan Dokter sebagai tujuan pekerjaanku. Aku akan tetap berusaha untuk mengambil kuliah kedokteran. Aku akan melakukannya karena aku percaya ‘Ridho Allah adalah Ridho Orangtua’. Walupun begitu aku juga tak akan membuang bakatku begitu saja. Aku putuskan untuk tetap menekuni bakat menulisku dan akan menjadikannya sebagi hobi yang ku usahakan terarah. Bahkan mungkin nantinya aku ingin menjadikan bakatku menjadi pekerjaan sampinganku yang bahkan mengahsilkan rupiah. Salah satu langakahku untuk tetap menekuni hobi menulisku yakni dengan membuat ‘blog Mata Ainun’ ini. Aku ingin menyalurkan hobi menulisku dalam blog ini.

Keinginanku kemarin semakin kuat setelah aku mengikuti sebuah motivasi di sekolahku Selasa kemarin. Dalam motivasi itu aku sempat di suruh menulis sebuah Visi dalam hidupku dan entah kenapa saat itu dengan yakin aku menulis visiku. Selanjutnya kami tak hanya menulis, kami diharuskan untuk membacakan visi masing-masing dengan lantang dan bersamaan senbanyak 3 kali. Aku dengan lantang dan yakin membaca visi ku kala itu.    

“Saya Ainun, Hari Ini Tanggal 18 Maret 2015 Menetapkan Visi untuk Menjadi Seorang Dokter Anastesi Sekaligus Penulis Buku Best Seller pada tahun 2025”


 Aku meneriakan iti itu sambil memutuskan sebuah hal penting dalam hidupku (menurutku). Aku memutuskan untuk InsyaAllah menjadikan dokter sebagai pekerjaanku dan ini akan aku lakukan  dengan ikhlas untuk Ayahku dan untukku juga tentunya. Sedangkan aku akan menjadi penulis untuk memenuhi keinginan terpendamku. Jujur aku berharap, Bila di masa depan aku menjadi seorang yang dikenal, aku ingin terkenal bukan sebagai seorang dokter, aku ingin terkenal sebagai seorang penulis buku. Aku berharap dapat memotivasi orang lain dengan apa yang aku alami sekarang. Walaupun aku tau hidupku tak serumit orang-orang disekelilingku, tapi aku akan selalu membuka mata dan telingaku untuk mereka. Aku akan selalu mencoba memahami mereka dan membantu, terutama lewat tulisanku. Walaupun juga hidupku tak seberliku dan tak sememotivasi tulisan Ahmad Fuadi dalam trilogi ‘5 Menara’ nya. Aku berharap cerita-cerita singkatku dapat menggugah hati-hati sahabat semua walaupun sedikit. Aku selalu berharap dapat menjadi mata yang jeli memandang sekitar. Aku berharap mataku akan menjadi ‘Mata Ainun’ yang sesungguhnya.       

Komentar